Laut Majene

Friday, December 4, 2009 5:35
Posted in category Sosial & Budaya

Kalangan pelaut Bugis-Makassar menyebut lokasi kejadian itu sebagai perairan Tanjung Baturoro. Sementara itu, pelaut Mandar menyebutnya sebagai Tanjung Rangas atau Sumarorong. Sejak dulu perairan tersebut menjadi momok bagi pelaut Bugis-Makassar dan Mandar. Para anak buah kapal Haji Sappe (60) dan kalangan pelayaran lain yang biasa melabuhkan kapal di Pelabuhan Mara’ bombang-Suppa, Kabupaten Pinrang, dan Cappaujung, Kota Parepare (Sulawesi Selatan), sudah hafal tentang ritual apa yang harus dilakukan ketika melintas di sana, khususnya jika dalam perjalanan menuju Kalimantan.

Guna menjinakkan gelombang dan pusaran air yang sulit diduga, mereka biasanya melarung baki berisi hidangan ketan dan telur. Ini sebagai persembahan atau semacam izin lewat kepada penguasa laut. Cerita rakyat yang berkembang di daerah ini menyebutkan kalau mereka yang tidak melakukan ritual tersebut, siap-siap saja menghadapi nasib sial. Entah hanya sekadar mitos atau memang beanr-benar nyata, buktinya sudah banyak korban melayang di kawasan ini.
Majene memang daerah yang perlu diwaspadai. Ahmad Bahar, dosen ilmu kelautan Universitas Hasanuddin, mengatakan bahwa di perairan itu terdapat pertemuan arus dan tanjung serta pusaran angin. Arus dari arah Laut Flores dan Laut Sulawesi bertemu di sana. Tanjung tersebut memanjang mulai dari selatan ke utara, dari pesisir Kota Makassar hingga Mamuju (Sulawesi Barat).”Pusaran air juga ada di daerah itu karena arus dari utara, seperti Laut Sulawesi, dan dari arah selatan, seperti Laut Flores, masuk ke Selat Makassar dan bertemu di perairan Majene dan Mamuju,” papar Ahmad. Menurutnya, di situ juga sering terjadi perubahan cuaca secara mendadak, pusat tekanan di laut berubah rendah secara mendadak. Ini bisa mengubah tekanan angin secara tiba-tiba dan akibatnya mengubah gelombang. Belum lagi kalau perubahan gelombang menyebabkan ombak memukul dari samping kapal.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sri Woro B. Hardjono mengatakan, sebelum terjadi peristiwa tenggelamnya KM Teratai Prima itu, pihaknya sudah mengeluarkan warning tentang tinggi gelombang laut di Perairan Majene lebih dari 2,5 meter untuk periode 10 Januari sampai 11 Januari 2009. Informasi sudah disampaikan pada administrator pelabuhan, bagian kenavigasian Ditjen Hubla, termasuk pihak operator pelayaran. Informasi itu berlaku untuk satu pekan, namun diperbarui per hari.
Lalu apakah laut Mejene benar-benar angker? Ketua DPR Agung Laksono tidak percaya hal itu. “Ah saya nggak percaya itu daerah angker. Kami mengimbau kepada Dephub, jika memang cuaca masih buruk, kalau perlu tidak diizinkan melaut saja,” katanya. Semua itu kembali kepada kita, bagaimana menyikapi fenomena ini. Dan yang pasti, peristiwa ini dapat menjadi pelajaran bagi kita, agar tidak terjadi peristiwa serupa di kemudian hari.

Mundur sedikit dengar cerita lama

Laut Majene kembali memakan korban. Setelah awal tahun 2007 (1 Januari 2007) lalu Adam Air menjadi bangkai di perairan ini, pada 11 Januari 2009 kemarin giliran Kapal Motor Teratai Prima menjadi korbannya. Hingga Selasa (13/1) kemarin, jumlah korban selamat sebanyak 35 orang, sementara sekitar 250-an korban lainnya masih dalam pencarian. Anehnya, dua peristiwa itu terjadi, sama-sama, di awal tahun. Kebetulankah?
Selain dua peristiwa yang menyita perhatian publik tersebut, ada beberapa peristiwa lain terjadi di sekitar wilayah perairan yang terletak di Baturoro, Sulawesi Barat ini. Pada 19 Juli 2007, misalnya, KM Mutiara Indah tenggelam di perairan Majene, sekitar 1,5 mil dari Pantai Tanjung Rangas. Sehari kemudian, 20 Juli 2007, KM Fajar Mas tenggelam sekitar 60 mil dari Pantai Tanjung Rangas. Kedua kapal ini berangkat dari Sangkulirang, Kalimantan Timur, menuju Awerrangnge, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Kemudian pada 16 Agustus 2007 giliran kapal penangkap ikan Sumber Awal tenggelam di perairan Kelurahan Labuang, Kecamatan Banggae Timur. Hampir setahun kemudian, 8 Juli 2008, nasib naas menyambut kapal pengangkut bahan kebutuhan pokok yang tenggelam di perairan Tanjung Rangas saat berlayar dari Palu (Sulawesi Tengah) ke Makassar (Sulsel). Pertanyaannya, ada apa di perairan Majene?baik-baik aja…ha..ha..

You can leave a response, or trackback from your own site.

7 Responses to “Laut Majene”

  1. tuteh says:

    December 8th, 2009 at 11:21 am

    Psssttt… jangan2 ada hubungannya nih antara Laut Manjene dan Segitiga Bermuda :D

  2. luxsman says:

    December 8th, 2009 at 11:30 am

    mau dunk aku diajak kesana….

  3. alief says:

    December 15th, 2009 at 1:06 pm

    wah…., ada apa ya dengan laut majene???

  4. ai says:

    December 17th, 2009 at 5:22 am

    blog walking :D

  5. tuteh says:

    December 22nd, 2009 at 8:27 am

    Selamat Hari Ibu yaaaa… :D

  6. tuteh says:

    January 3rd, 2010 at 6:10 am

    Happy NEW YEAR 2010, my bro & sis…

    Best for you,
    Best for me,
    Best for world…

    Amin.

  7. tuteh says:

    January 19th, 2010 at 2:26 pm

    Update…. :D

Leave a Reply