Hanya untuk Ibu
Friday, January 9, 2009 4:35Dinda anak ke tiga dari tiga bersaudara,semua saudaranya perempuan.Seperti kebanyakan
saudara perempuan lainya selalu rebut soal pakaian,make up atau perhatian dari orang tua dengan merebut dengan berbagai cara agar lebih di sayang.Namun baru tak lama ini dinda di tinggalkan oleh ke dua kakaknya itu,dinda sangat sedih,kesepian dan merasa sendiri,meskipun setiap kali sering rebut dengan kakaknya itu meski hanya masalah sepele namun saat tak bersama dinda merindukan kebersamaan dengan kakak-kakaknya itu,saat-saat saling meledek,saat-saat saling ngambek atau rebut hanya karena masalah sepele atau bermanja-manja merengek-rengek mintak di belikan semangkuk miso,meskipun sudah dewasa dinda tetap saja bandel dan suka gangguin kakaknya begitu juga dengan kakaknya sampai rebut
“hah…….” Dinda hanya bisa menghela nafas,ada sesuatu tersendat di tenggorokannya sebuah rasa pedih dan rindu pada kakak-kakaknya
Dinda bukanlah anak yang pandai berbicara manis meskipun ia penurut pada kakak atau ibunya namun sering kali karena ia tak pandai berbicara membuat ibu dan kakaknya salah tanggap dan memarahinya padahal maksudnya lain.dan ini membuat ia jarang di ajak bercerita dengan ibu dan kakak-kakaknya meski mereka saling sayang.dan itu yang membuat mereka sering ribut.
Suatu hari penyakit dinda kambuh lagi dan akhirnya dinda ambruk tak dapat menggerakan tubuhnya,jantungnya sesak berat,kaki dan tangannya berat dan kaku.dinda hanya bisa mengerang kesakitan di kamar tanpa ibunya tau bahwa ia sudah sekarat.dinda tertegun dalam sakitnya yang ia rasakan hanya kaku,yap dinda menderita strouk ringan karena penyumbatan pembuluh darah karena kebiasaannya menahan perasaan sendirian sedari kecil dan di tambah karena papanya yang keras.di tambah lagi dinda menderita kangker darah hingga penymbatan pembuluh darah itu makin menjadi-jadi dan sewaktu-waktu sembuh lalu sewaktu-sewaktu sehat kembali.
“dinda…dah makan….” Ibunya bersorak dari luar kamarnya karena dinda tak pernah keluar kamar di lihatnya ya maklumlah ibunya pergi pagi pulang malam untuk mencari uang dan mengurus urusan keluarga setiap harinya meski libur jadi lengkap sudah tiada waktu untuk bercerita dengan dinda,jadinya dinda menjadi anak mandiri dalam segala hal termasuk memendam masalahnya tanpa tiada satupun yang tau,kecuali mereka akan anggap dinda kekanak-kanakan ya maklumlah kalau ada waktu tentu itu membuat dinda bermanja-manja namun tiada yang tau masalahnya yang ia sembunyikan di balik ceria dan tawanya terlebih kakak-kakaknya telah pergi meninggalkannya sedang di rumah tiada keakrapan dengan ibu yang sakit-sakitan namun sibuk mencari uang siang malam sedangkan papanya tak kemana sibuk sendiri
Suatu hari dinda masuk UGD
“dinda….dinda…sakit apa nak….ujar ibunya sambil terisak-isak menahan pilunya,karena melihat anak satu-satunya yang tertinggal kini terbaring lemas
“mana papa bu….” Dinda bertanya pada ibunya
“papa…..papa tak ada….sudah ibu telfon-telfon tapi hand phonenya mati” ujar ibunya sedih,bagai mana tidak selama ini ia sudah sakit-sakitan mencari uang siang malam untuk keluarga namun kedua anaknya (kakak-kakak dinda) kini telah pergi tiada di sisinya belum lagi masalah keluarga dan keuangan yang harus ia tanggung sendirian dan suami yang tak mau tau dengan anak sakit,sekolah atau tidak.dan itupun membuat dinda sakit hati namun disembunyikan oleh ibunya agar dinda sabar pada papanya.
“maaf buk..anaknya butuh istirahat….”ujar dokter pada ibunya…
“ya..baik dok…..” ibu tua itu pergi keluar meninggalkan dinda dengan senyum yang di paksakan pada wajahnya yanga meyiratkan kelelahan.
“hati-hati bu….” Dinda berujar pada ibunya,menatap punggung wanita tua,kurus yang masih sehat terlihat karena terbalut jas merah yang indah hingga menutupi betapa lusuh dan lemahnya ibu itu.
“dokter…..tolong jangan katakana pada ibuku sakitku….tolong katakana saja bahwa sakit saya tidak dapat di temukan….ya…dok..”
“tapi dia ibu anada….dan rumah sakit ini nantik……”
“tidak…tidak…saya tidak akan bilang macam-macam akan rumah sakit ini…dokter bantu saya…ya…saya mohon jangan katakana pada siapapun akan sakit saya bicar saya dan dokter saja yang tau……” dinda dengan cepat memotong kata-kata dokter itu dan memohon agar dokter itu menyetujui permintaannya
“ya….baiklah….”ujar dokter itu
“satu lagi dok…saya ingin pulang besok….jadi biyar saya merawat diri saya dirumah saja….” Ujar dinda
“itu tidak bisa dinda….kamu sakit…..” ujar dokter itu lagi
“aku mohon…..kalau tidak ibuku akan curiga dan sedih seperti tadi….”ujar dinda
“dan akan lebih sedih bila melihat kamu sakit-sakitan dirumah tanpa dirawat….” Ujar dokter itu dan bersiap siap akan pergi…
“dokter….saya mohon…ini untuk ibu….aku mohon…saya bisa merawat kesehatan saya,dokter tinggal kasih saya obat….”
“itu menyalahi sumpah saya sebagai dokter…” ujar dokter itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak setuju
“ayolah dok….saya mohon….saya mohon…..” dengan segala upaya dinda memohon agar dokter itu mengizinkan ia pulang dan tak mengatakan sakitnya pada siapapun
Beberapa hari setelah itu apa yang dikatakan dokter itu dinda mesti dirawat memanglah seharusnya dijalani karena setiap malam ia harus megerang kesakitan pada kepalanya dan tubuhnya,kaki,tangannya ia paksa gerakan meski tertatih-tatih hingga ia di cemeeh oleh papa,temannya dan ibunya pun menayakan kenapa kaki,tangannya jadi kaku digerakan seolah dibuat-buat,mereka tidak tahu kalau sesungguhnya dinda menderita storuk ringan dan kangker darah yang juga berakibat pada peyumbatan pembuluh darah pada jantung dan kepala bagian belakangnya hingga ia mulai pikun,tertaih-tatih,sakit-sakitan dan sering megeluarkan darah baik pada hidung atau telinganya apa bila sakit itu tak tertahankan lagi meski telah minum obat.
Dinda sedih sebenarnya ia ingin cerita tapi tak ingin ibunya sedih atau papanya menghina sakitnya begitu juga dengan teman-temannya yang mengolok-olok jalannya yang seperti robot bila tiba-tiba.sakitnya kambuh berat.
“hah…..ini untuk ibu….aku tak boleh mati dulu…aku tak boleh buat dia sediah dengan tau aku sakit….aku anak yang kuat…harus….ibu harus memikirkan aku sebagai anak yang kuat,sehat dan manja saja….tidak boleh ia tau aku sakit apa….meski dinda harus bekerja membersihkan rumah sedangkan sebenarnya ia tak kuat lagi.dan berjalan meski tertatih-tatih,semua untuk ibu….hanya untuk ibu aku ada di dunia ini…..”ujar dinda dalam hatinya hanya itu yang dapat ia lakukan untuk meyemangati dirinya dan agar tampak ceria tak seperti orang sakit.


