Facebook jadi sampah
Tuesday, March 17, 2009 3:47Saya tertegun membaca status seorang kawan di akun Facebook-nya: “betapa menjengkelkan sampah visual di tiang listrik, tembok, dan pepohonan.”
Ada kegusaran di sana. Anda juga pasti bisa menerka: ini terkait pemasangan poster para calon legislator. Jika kita cerna, status tersebut menaruh iba pada lingkungan yang berubah tak karuan saat para calon legislator berlomba membujuk dan merayu. Belum terlihat tonjokan ke ulu hati politik itu sendiri—ajang para politisi berkiprah.
Masalahnya, kesan yang kuat mengemuka, politik diperebutkan oleh orang-orang semacam itu: tak punya kesantunan pada lingkungan, serampangan menaruh iklan. Sinisme kian kental lantaran para Wakil Rakyat tak kunjung memperlihatkan kinerja mengagumkan. Lihat, betapa banyak anggota absen justru ketika rapat digelar membicarakan masalah hajat hidup orang banyak. Atau, saat hadir di rapat, berseteru dengan petinggi BUMN untuk urusan sepele.
Alih-alih mengundang decak kagum, sederet anggota DPR justru mesti menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sinisme memang mekar. Meski, saya beranggapan, terlalu dini untuk memvonis bahwa parlemen telah “mati.”
Cuma, menjadi berbahaya ketika sinisme bergerak menjadi apatisme kolektif. Demokrasi membutuhkan parlemen. Parlemen membutuhkan partai. Partai membutuhkan politisi. Ketika moral para politisi bangkrut dan hukum bak keset yang diinjak-injak, demokrasi tinggal sejengkal menuju liang lahat. Kita layak cemas, kecuali menganggap demokrasi adalah “benda najis” ciptaan kaum sekular di Barat.
Atas status tersebut, ada yang menimpali: “Ya,…sampah visual itu kelak memproduksi sampah politik. Kita hidup di negeri sampah…”
Semoga cetusan ini cuma berakhir di halaman Facebook. Mengerikan jika “sampah” benar-benar menguasai jagat politik kita. Bau busuk akan menyebar, menggerogoti sendi-sendi dasar kehidupan. Lalu, hilanglah harapan. Dan, kita menerima (kembali) sang tiran dengan tangan terbuka.



zee says:
March 17th, 2009 at 6:17 am
Ermm… gimana klo tulis yg enak2 saja di fb. Biar ga mengundang komen yg buat panas. Lbh baik tulis statsu or comment di fb yg lucu2an… klo mo bahas politik or sampah visual, lbh enak tuh klo sambil makan siang… judulnya wacana lunch. Hehehe…
Chic says:
March 17th, 2009 at 8:31 am
dan golongan putih diperkirakan akan makin banyak aja kalo cara kampanye nya seperti itu…
shei says:
March 17th, 2009 at 9:02 am
Iyaa…merusak pemandangan bangeet!! Menyebalkan ckckckk!!!!
ciwir says:
March 18th, 2009 at 8:21 am
lebih baik PLURK daripada FESBUK
naza says:
March 19th, 2009 at 8:00 pm
biarin aja entar habis kampanye mau tak ambil buat nambal bajuku yang pada bolong
Andri says:
March 21st, 2009 at 10:45 am
iya.. trus masa ada aturan presiden pisah ma wapres.. gimana coba itu.. (doh)
senny says:
March 22nd, 2009 at 8:58 am
teteup cinta mampus sama facebook
natazya says:
March 27th, 2009 at 8:18 pm
sudah ga masalah hidup di mana
mungkin karna kita hidupnya di negara patologis ya buat bisa bertahan harus ga kalah patologis