Ceritaku…
Sunday, October 12, 2008 7:40Aku adalah anak perempuan dari dua saudaraku,kami semua adalah perempuan.sewaktu aku masih kecil pastinya aku sama dengan anak anak kecil lainnya yang tak tau apa apa hanya saja padaku tak tau apa apa itu melebihi usiaku sampai aku telah duduk di SMA.aku bukan idiot atau mempunyai keterlambatan mental.tapi kehidupanku yang membuat aku seperti ini
Aku tidak dapat berteman dan menikmati masa masa kecilku dengan senang malah lebih senang lagi anak anak tukang sampah/pemulung-pemulung itu dari diriku.
Papa ku adalah seorang pensiunan BUMN di kotaku,sedang ibuku adalah seorang guru SMK Negeri tertua dikotaku.Sejak kecil aku seringkali mendapat perlakuan tak mengenakkan dari papaku.papa yang suka memukulku,membenturkan kepalaku kedinding,tak membolehkan aku makan,dikurung,ditinju,dimaki,dihina,serta disesali kelahiranku,karena dianggaap karena aku lahir mereka menjadi jatuh miskin.
Padahal kenyataannya tidak,papaku sendiri yang mintak berhenti dari kantornya,sehingga ia pension muda degan cara terhormat.lalu ia merintis PT,CV dan perternakan kerbau,sapi,kuda serta kambing jerman.saat itu aku masih belum menaruh rasa benci pada papaku,karena ibuku sangat pandai membuat keadaan menjadi baik di depan anak anaknya.
Namun usaha papaku bangkrut karena pada saat itu ada seorang laki laki yang mengaku sebagai di pati (sekarang namana bupati) dari aceh memesan 100 sapi dan kerbau pada papaku.karena suadah finis makanya diantar dengan menggunakan kapal laut,tapi kenyataannya tiba di sana ternyata orang aceh tersebut menipu dan akhirnya papaku dengan geram dan kecewanya kembali membawa hewan hewan ternak itu ke padang.Tapi ternyata tuhan tidak hanya menguji sampai disana, tiba tiba di tengah lautan itu terjadi badai dan arus pasang,karena muatan kapal terlalau berat dan badai itu akan menenggelamkan kapal akibatnya terpaksalah 100 sapi dan kerbau itu di tengelamkan hidup hidup kelautan hindia,dari pada kapal tersebuat mengaramkan orang orang yang ada di dalamnya.
Papa rugi besar,kantor BUMN yang tempat ia bekerja dulupun menawarkan kembali jabatan papa,tapi papa tidak mau karena ia merasa lebih enak kerja sendiri dari pada duduk di balik meja kantor dan memeriksa kontraktor-kontraktor yang akan membagun gedung dan jalan karena papa saat masih kerja menjabat sebagai kepala teknisi dan keuangan (kalau sekarang mana bias menjabat sekali dua dalam satu perusahaan jarang kali bias kita temukan)
Aku sangat saying dengan keluargaku,sama halnya dengan teman teman lain yang pasti semua saying dengan keluarganya
Tapi rasa sayang terhadap papaku dengan berjalannya waktu berubah menjadi perasaan benci terhadap papa,betapa tidak sejak itu papa tak lagi kerja dia Cuma bias memerintah dan memukul orang bukan karena dia stress tapi dia nggak mau kerja kalau nggak buka usaha perternakan seperti dulu.
Papa sangat suka merendahkan dan membuat malu ibuku didepan orang ramai apa lagi jika didepan ibuk ibuk,jangan itu kami anak anaknya tak pernah dia perhatikan,mau makan,beli buku,pakaiyan saja nggak pernah papa mau tau.ternyata aku baru tau kalau papa bersikap begitu sudah dari dulu hanya saja ibu suka menutupi,namun sejak seuatu hari di pagi hari yang cerah dirumahku ternyata mati PDAMnya dan saat aku bangun aku papa dan ibu sudah tak ada,lalu aku melihat pintu ruang tamu terbuka saat aku keluar aku melihat ibuku sedang menampung air dan mengangkatnya kedalam buat mandi,minum kami,dan papa saat itu hanya menghardik ibu tanpa membantu,tapi tiba tiba ibu kelelahan mungkin saat aku tertidur dia sudah bekerja dari subuh makanya dia lelah,tapi papaku malah memaki ibuku dengan kata kata tak senonoh dan menendang punggung ibuku dari belakang,dan saat akan di lanjutkannya lagi aku mendekat karena melihat aku lalu dia makin memaki maki ibu dan berlalu pergi ketempat duduknya.Dia dengan sok seperti raja duduk di atas tangga rumah dan memperhatikan aku dan ibu bekerja mengambil & mengangkat air ke dalam rumah.Padahal seharusnya itu adalah pekerjaan seorang ayah mengangkat ngangkat air untuk membantu anak isrinya yang tak memiliki air dirumah.
Hari berlalu…kehidupan kami dibiayai oleh gaji ibu,mulai dari sewa rumah,bayar PLN,PDAM,TLP,uang belanja kami,makan,obat obat serta baju sekolah kami ibu yang biayai sedangkan papa hanya diam saja tak mau tau
Kalau Cuma begitu mungkin masih bias toleransi atau menghormatinnya,tapi…selain tak mau kerja hal hal kecil dirumah pun seperti mengganti lampu yang sudah putuspun musti tunggu aku yang masangin,padahal saat itu aku masih berusia 8-9 tahun.
Kadang jika tak ada makannan kami hanya bias diam dan diam,diluar rumah ibu selalu mengajarkan agar tak boleh menampakakan kemiskinan dan kekejamman papa meski kita seorang perempuan
Otomatis kami selalu pindah rumah,dan aku juga selalu pindah sekolah bahkan kadang malah berhenti sekolah,jika ibu tak mampu bayar listrik kami hidup gelap gelapan,jika tak ada makannan kami tidur dalam selimut menunggu hari esok
Bulan berikutnya…
Papa makin menjadi jadi akhirnya karena itu aku dibawa oleh kakek dan nenekku ke kampong kami,aku disekolahkan di SD Katolik dan aku juga di leskan mengaji di mesjid,disana siang harinya aku sibuk membuat tugas (PR ku) sampai jam 4 aku pasti masih berada di warung tempat kakekku suka makan disana.disana aku selain dikenalkan akan agamaku sendiri aku juga dikenalkan akan agama lain seperti Kristen,sampai jam empat aku pulang dengan kakekku dengan mengendarai delman dan duduk didepan dekat kusir dan kuda kalau dikampung ku namanya (bendi).sampai dirumah aku pasti dipaksa tidur sebentaroleh kakek dan nenekku dan tak boleh pergi main,maklumlah kakek dan nenekku adalah orang orang keturunan yang sangat dihormati oleh sekota itu jadi aku di pingit dan kemanapun pergi pasti dikawal.dan bila hari sudah sore jam 05;10 aku pasti kedepan rumahku karena didepan rumah adalah mesjid jadi aku les mengaji disana pulang dari mengaji langsung di lanjutin dengan acara sholat magrib,waktu itu aku nggak mau pake mukena aku mau nya pake peci jadi aku sholat kayak laki laki,dan kadang kadang ada juga pake mukena sholat selayaknya aku seorang anak perempuan,hah…sangat lucu bila di ingat.,bukan hanya sampai disana saja,selesai sholat kakek dan nenekku megizinikan aku nonton waktu itu yang ada Cuma TVRI dan TPI dulunya aku Cuma bias nonton kuis “oo…siapa dia” yang di bawakan oleh kues hendratmo.setelah kuis itu selesai aku musti nyiakan makan malam dengan kakek dan nenek,duduk rapi rapi dan setelah makan dan semuanya dirapikan masuk lemari sambal,cuci kaki dan tangan lalu tidur,dan jika pagi tiba selain sholat,sekolah ak pasti nungguin susu lewat,di kotaku terkenal banyak sapi potongnya yang masaih segar begitu juga dengan susu murninya,dan aku lah pelanggannya dalam waktu sekejap pagi itu aku bias ngabiskan 5 gelas susu murni,ha…ha…kebayangkan gimana bentukku,masih SD,pendek pastinya,gendut,dan putih karena pergi aja dikawal terus
Tapi suatu ketika sakit jantung kakekku kambuh lagi dan dia dilarikan kerumah sakit jantung khusus militer,namun suatu hari tah kenapa tiba tiba aku tak mau bertemu kakekku hari itu dan ibu yang menjemputku menjadi marah dan menhentuk hentukkan kepalaku,dan ternyata perasaan itu ada karena esoknya kakekku menghembuskan nafas terkhirnya.dan aku yang tak mau pergi pada saat itu dan tinggal dirumah menjadi orang yang pertama mengembangkan tikar untuk kedatangan jenazah kakekku,perasaanku sangat mesedih,namun pada saat itu aku masih kurang bias mengerti akan arti meninggal orang yang kita sayangi.sampai jenazah kakekku tiba akupun tidur disamping kakekku yang sudah pergi meninggalkanku tuk selama-lamanya,dan akhirnya aku kehilangan figure seorang ayah yang akan menasehati,mengerti aku,mendengarkan,dan akan tetap berbicara lembut beribawa meski ia marah padaku,dan aku seumur hidupku hanya sekali membuatnya marah.
Dan aku tak tau lagi yang aku lihat kakakku fitri duduk menatap kakekku,sedang kakaku febi tah kemana aku tak tampak,dan aku hanya sibuk melihat wajah kakekku dan tidur di dekatnya.
Sejak itu aku kembali ke kotaku.dengan ibu dan papa aku tak sebahagia dengan kakekku,dan tak hanya mendapat perhatian keadaan dirumah makin menjadi jadi papaku suka memukulku,mehentukan kepalaku,menyamnuku,mehina ku,dan bukan hanya aku saja kakak kakakku serta ibu ku juga diperlakuka demikian,tapi ibu selalu saja bilang agar kita sabar,sedang papa tak mau tau dengan kami mau makan atau tidak dan kekacauan tak hanya sampai disana saja papa suka meminjam uang dengan orang orang yang berbunga sampi 50% dan 70% dan orang orang itu seringkali datang,ada yang memecahkan kaca rumah,menghina-hina kami,memukul dan meninjuku pun juga ada dan saat itupun meski aku kecil dan hanya seorang anak perempuan aku pun tak takut melawannya.
Papa makin menjadi jadi,tak mau tau,suka menganiaya,menghina,bahkan mengatakan ibu pelacur.padahal ibu menghidupi kami dengan gaji dan berutang utang pada orang,sedang sanak famili/keluarga yang lain tak ada yang peduli.
Kadang aku merasa bosan dan kami anak anaknya memintak ibu ubtuk meninggalkan papa saja,tapi ibu tak pernah mau,dia selalu saja mengurus papa,padahal buat makan papa tidak mau apa adanya,banyak sekali permintakannya,harus sambal ibi atau itu,dan jika sudah dibuatkan malah dihina aau dibuang.tidak itu sja papa selalu mintak uang,gaji ibu yang pas pasan sudah di potong oleh koperasi kantornya karena mengambil barang barang dari koperasi sekolahnya,belum lagi buat bayar utang gara gara papa yang berbunga tinggi,sewa rumah,sekolah anak,makan,kehendak suaminya dan lain lain
Semakin aku beranjak SMA papa masih saj seperti itu hingga akhirnya kami pindah rumah lagi karena diusir,dan suatu ketika ibu mendapat uang dari hasil penjualan tanahnya dikampung maka barulah terisi rumah kami dengan meja,kursi,tempat tidur,kulkas dan mesin cuci dan saat itu batulah aku memiliki TV padahal orang yang tinggal di gubuk reotpun sudah dahulu memilikinya.hah…
Papa masih saja tak mau tau,andai aku bias lepas aku akan pergi menghibur diriku.semua ku urus sendiri,makan,sekolah,buku buku harus cari akal buat itu semua.meski tak semuanya.dan papa masih saja begitu begitu,semua pekerjaan kami yang lakukan,mau itu pekerjaan laki laki atau perempuan
Keadaan seperti itu membuatku kuat,tapi rasa takut yang tak tau kenapa tiap bertemu segerombolan laki laki aku menjadi takut dan benci karena bukan hanya papa yang membuat aku menjadi berfikiran begitu tapi karena sekelilingku,dan di luarnya pun begitu aku tak menemukan laki laki,baik itu teman,sahabat atau ayah yang baik yang bias menjaga,menghormati dan melindungi aku.seperti kakekku menyayangi aku,melindungi,dan mendidikku dengan baik
Syukurnya dengan pendidikan yang ditanamakan kakekku meski singkat atau hanya saat aku kelas 2 SD saja,pendidikan itu yang membatasi aku,yang membuatku tak melakukan hal hal aneh pada hiupku
Namu dengan berjalannya waktu aku terjatuh juga sedikit walau setitik aku laku kan kesalahan itu tapi membuat perasaanku makin hancur.dan aku tak bias dan tak lagi menjadi anak permpuan yang kuat,mampu melakukan pekerjaan fisik seperti laki laki,dan tidak cengeng.aku berubah menjadi orang yang selalu sakittan.dan belakangan barulah aku tau aku mengidap penyakit penyumbatan pembuluh darah,dan sewaktu waktu aku meninggal aku bias merasakan bahagia bias melihat dan bertemu dengan kakeku lagi yang selalu aku panggil babak (yang artinya adalah bapak hah..itu karena aku dulu waktu kecil masih teloh atau nggak lancer bahasanya,ha…ha…)
Saat ini yang membuatsemuanya jadi rapuh semua karena keadaan,lingkungan semua yang aku temui baik di Jakarta,padang,padang panjang,makasar atau daerah daerah lainnya,atau pun lingkungan kampusku aku tak menemukan laki laki yang menurutku jentelmen,bagiku semuanya munafik,sok ngatur dan berbagai macam hal.
Apa lagi peghinaan penghinaan itu tak hanya terjadi dari masa lalu tapi sampai sekarang,dan sekarang karena keadaan ini aku menjadi mudah ambruk,karena sakitku ini aku sering kali jadi bahan hinaan teman teman meski aku tak mengatakannya,karena aku juga tak mau di hina serta di kasihani.
Kadang aku sangat jenuh jenuhnya dirumah,didalam kamar karena perjalannan ku hanya di kampus ,cari buku lalu pulang,karena sejak kecil aku sudah dilarang berteman atau bawa teman kerumah,apa lagi keadaan keluargaku aku tak mau dikasihani,
Ibu selalu mengajarkan untuk selalu bersikap tegar kapan perlu meski laki laki atau orang lain menghina kita kita tak boleh membalasnya,sungguh kadang menyesakkan perasaanku melihat semua ini
Sekarang yang aku tau,dan ibu,kakakku tau kita hanya menjalani hidup,tak tau apakah kita akan mati di tangan papaku atau bias meninggal dengan pesaan bahagia.yang ada hidupku juga harus dilalui,meski berat,dan aku pun lagi lagi mesti bersabar menghadapi cobaan meski aku tak sekuat aku yang dulu,tak setegar aku yang dulu dan tak sesehat yang dulu lagi
Meski aku tau diluar sana aku hanya bias dan aku hanya punya teman dan itu pun Cuma satu dan satu itu pula yang sama menyakitkanku,dan membuatku makin terpuruk.kadang aku merasa akan lebih indah jika meninggal dari pada tersiksa lahir batin melihat dan berada di atas duania ini,bayangkan orang yang kita sayangi membuat kita tertekan perasaan,dan kita pun tak bias lepas dari perasaan ini ke dia.sungguh dunia memang kejam


